Patia Terisolasi Banjir Musiman, Di Mana Fungsi Pemerintah Daerah? Warga Harapkan Perhatian Presiden Prabowo

- Penulis

Jumat, 23 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penabanten.com, Pandeglang — Keterisolasian wilayah Patia akibat banjir musiman kembali menjadi penanda kegagalan tata kelola pembangunan Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Banten. Peristiwa yang terjadi pada Jumat (23/01/2026) ini menegaskan bahwa bencana tahunan tersebut tidak lagi layak dipahami sebagai fenomena alam semata, melainkan sebagai konsekuensi dari kelalaian struktural dalam perencanaan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, dan perlindungan hak dasar warga negara.

Desa Idaman, Kecamatan Patia, tercatat sebagai wilayah dengan dampak paling signifikan. Genangan air yang berlangsung dalam waktu lama tidak hanya melumpuhkan jalur transportasi, tetapi juga mendorong masyarakat ke dalam situasi darurat kemanusiaan yang nyata dan berbahaya.

Kepala Desa Idaman, Ilman, mengungkapkan kepada wartawan bahwa dirinya terpaksa menggotong seorang ibu yang baru saja melahirkan dari Kampung Tongkol menuju Kampung Karangtengah demi memperoleh layanan kebidanan. Jarak sekitar dua kilometer harus ditempuh secara manual akibat lumpuh totalnya akses jalan.

“Dalam kondisi seperti ini, kami tidak memiliki alternatif lain. Seluruh jalur terendam dan kendaraan tidak dapat melintas, sehingga ibu yang baru melahirkan harus dibawa secara gotong royong agar bisa mendapatkan pertolongan medis,” ujar Ilman.

Situasi serupa juga dialami wilayah lain di Patia. Ihwan, warga Desa Pasirgadung, menuturkan bahwa luapan Sungai Cibeureum belum menunjukkan tanda-tanda surut sejak Selasa (20/01/2026). Genangan yang terus berulang menghambat aktivitas masyarakat, khususnya akses menuju Desa Surianeun dan Desa Pagelaran yang hingga kini masih terganggu.

“Air Sungai Cibeureum terus meluap dan menutup jalur utama menuju Surianeun dan Pagelaran. Kondisi ini membuat warga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari,” kata Ihwan.

Ia menjelaskan bahwa meluapnya sungai tersebut disebabkan oleh pendangkalan alur sungai serta tumpukan sampah yang menyumbat aliran air. Akibatnya, kapasitas sungai tidak lagi memadai untuk menampung debit air, terutama saat hujan turun dengan intensitas sedang hingga tinggi. Situasi ini memperparah genangan yang menutup ruas jalan, satu-satunya penghubung antarwilayah.

“Pendangkalan sungai dan penumpukan sampah menjadi faktor utama yang membuat Sungai Cibeureum kehilangan daya tampungnya,” paparnya.

Keprihatinan mendalam juga disampaikan Kasman, warga Kampung Dungushaur, Surianeun. Ia menilai bahwa banjir berkepanjangan telah melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat, terutama para petani yang berulang kali mengalami gagal panen akibat banjir musiman. Ketergantungan warga terhadap jalur transportasi yang terendam memperluas dampak bencana, mulai dari sektor ekonomi hingga pendidikan.

“Banjir ini bukan berlangsung satu atau dua hari, melainkan hampir dua pekan dan belum pernah benar-benar surut. Padahal jalan tersebut merupakan satu-satunya akses menuju Surianeun dan Pagelaran,” ungkap Kasman.

Kasman mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait agar segera mengambil langkah konkret melalui normalisasi Sungai Cibeureum serta pengelolaan sampah yang terencana dan berkelanjutan.

“Tanpa penanganan yang menyeluruh, bencana serupa akan terus berulang dan memperburuk kondisi sosial masyarakat Patia. Situasi ini mencerminkan absennya pendekatan pembangunan yang berkeadilan wilayah,” tuturnya.

Sebagai putra daerah Patia yang berkiprah di dunia jurnalistik, Kasman menegaskan bahwa ketika banjir musiman dibiarkan menjadi rutinitas tanpa solusi jangka panjang, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar infrastruktur, melainkan hak dasar warga negara atas keselamatan, mobilitas, dan martabat hidup.

“Pemerintah Kabupaten Pandeglang tidak dapat terus berlindung di balik narasi bencana alam, sementara persoalan pendangkalan sungai, tata kelola limbah, dan minimnya intervensi teknis dibiarkan tanpa penyelesaian,” tegasnya.

Menurutnya, Patia tidak membutuhkan belas kasihan sesaat atau bantuan darurat yang bersifat temporer. Yang dibutuhkan adalah keberanian politik, keseriusan perencanaan, serta tindakan nyata yang berpihak pada keselamatan manusia.

“Selama persoalan ini terus diabaikan, Patia akan tetap terisolasi—bukan semata oleh air, melainkan oleh kegagalan kebijakan,” pungkas Kasman.

Berita Terakait

Pilih Fokus Sebagai Ketua Fraksi DPRD Provinsi Banten. H. Mohammad Nur Kholis Mundur Sebagai Ketua DPC PKB Kabupaten Tangerang
Gren Opening Lesehan KHAYIRA: Destinasi Kuliner Baru Masakan Sunda Asli di Kabupaten Tangerang
Ketum LSM Geram Bersama 7 LSM  Pimpin Demo Tolak Pemiskinan Rakyat, Puluhan Aktivis Datangi DPRD Tangerang Soroti Kenaikan BBM Tak Wajar
RDP Polemik 126: DPRD Tekankan Pentingnya Izin Resmi demi Menjaga Kepercayaan Investor
Proyek Seragam Dinas Diduga “Dikunci” untuk Vendor Titipan, UMKM Tangerang Protes Keras
Bekerja Berdasarkan Kontrak Bukan Opini”, CV Fadlan Konstruksi Tegaskan Kualitas Pekerjaan Jalan Bencongan Terjamin
Pertanyakan Legalitas JDEYO Billiard & Cafe, Langkah Kontrol Sosial LSM Pelopor Terganjal Sikap Tertutup Pengelola
Polresta Tangerang Ungkap Kasus Kematian Pelajar di Muara Kaliadem, 14 Orang Diamankan

Berita Terakait

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:25 WIB

Pilih Fokus Sebagai Ketua Fraksi DPRD Provinsi Banten. H. Mohammad Nur Kholis Mundur Sebagai Ketua DPC PKB Kabupaten Tangerang

Minggu, 7 Juni 2026 - 19:52 WIB

Gren Opening Lesehan KHAYIRA: Destinasi Kuliner Baru Masakan Sunda Asli di Kabupaten Tangerang

Kamis, 7 Mei 2026 - 16:00 WIB

Ketum LSM Geram Bersama 7 LSM  Pimpin Demo Tolak Pemiskinan Rakyat, Puluhan Aktivis Datangi DPRD Tangerang Soroti Kenaikan BBM Tak Wajar

Rabu, 6 Mei 2026 - 21:10 WIB

RDP Polemik 126: DPRD Tekankan Pentingnya Izin Resmi demi Menjaga Kepercayaan Investor

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:49 WIB

Proyek Seragam Dinas Diduga “Dikunci” untuk Vendor Titipan, UMKM Tangerang Protes Keras

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:37 WIB

Bekerja Berdasarkan Kontrak Bukan Opini”, CV Fadlan Konstruksi Tegaskan Kualitas Pekerjaan Jalan Bencongan Terjamin

Minggu, 19 April 2026 - 09:28 WIB

Pertanyakan Legalitas JDEYO Billiard & Cafe, Langkah Kontrol Sosial LSM Pelopor Terganjal Sikap Tertutup Pengelola

Jumat, 17 April 2026 - 18:21 WIB

Polresta Tangerang Ungkap Kasus Kematian Pelajar di Muara Kaliadem, 14 Orang Diamankan

Berita Terabru