Penabanten.com, Pandeglang – Tabir misteri hilangnya delapan penumpang dan kru kapal motor Arupadatu 1 di perairan Selat Sunda mulai menemui titik terang. Hasil identifikasi memastikan bahwa sosok pria yang sebelumnya mengapung tanpa identitas di perairan Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu, adalah Surakman alias Sukarman (60), salah satu Anak Buah Kapal (ABK) kapal nahas tersebut.
Pihak berwenang mencatat Kapal Arupadatu 1 hilang kontak saat mengantarkan lima jurnalis meliput aktivitas vulkanik di kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak awal September lalu.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) dan kedokteran kepolisian memastikan identitas jenazah tersebut setelah mencocokkan profil DNA jasad dengan sampel pihak keluarga korban di Banten.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapolda Banten, Irjen Pol. Hengki
Kapolda Banten, Irjen Pol. Hengki, membenarkan hasil uji ilmiah laboratorium forensik tersebut saat menjawab konfirmasi awak media.
“Dari DNA, bang. Hasilnya identik dan terdapat persamaan dengan korban, yakni ABK atas nama Sukarman,” tegas Irjen Pol. Hengki.
Almarhum Surakman merupakan warga Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Lokasi penemuan jasad di perairan Pulau Enggano, Bengkulu, memperlihatkan kuatnya daya dorong arus laut lepas Samudra Hindia dan Selat Sunda selama proses pencarian berlangsung.
Saat ini fasilitas medis di Bengkulu masih merawat dan menyemayamkan jenazah tersebut. Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Banten tengah mengoordinasikan proses penjemputan serta evakuasi jenazah menuju rumah duka di Carita,
Pandeglang, sebelum menyerahkannya secara resmi kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman.
Melalui keberhasilan mengidentifikasi satu korban ini, Tim SAR Gabungan bersama TNI AL, Ditpolairud, Basarnas, dan jejaring relawan pers terus memusatkan koordinasi pemantauan maritim guna melacak keberadaan tujuh korban lainnya, yang mencakup sang nakhoda, seorang pemandu, serta lima pewarta. (Red)


















