Polisi Tidak Berhati Nurani: Perintah Tembak di Tempat Kapolda Lampung Tewaskan Terduga Pelalu Begal dengan Tubuh Hancur

- Penulis

Kamis, 4 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penabanten.com, Lampung Timur – Kebijakan Kapolda Lampung yang memerintahkan penembakan di tempat terhadap pelaku begal kini memicu kemarahan publik. Bukan keberhasilan memberantas kejahatan yang terlihat, melainkan aksi brutal aparat yang dinilai kehilangan hati nurani. Seorang warga, Joni Iskandar (JL), tewas dengan tubuh hancur setelah dibawa paksa polisi dari rumahnya dalam kondisi sehat.

Peristiwa bermula pada 3 Juni 2026, ketika jajaran Polresta Bandar Lampung menggelar operasi perburuan terduga pelaku begal di Dusun I, Desa Negara Batin, Kecamatan Jabung, Lampung Timur. Tanpa data akurat, petugas terlebih dahulu mendobrak rumah Kunang Hen, warga yang sama sekali tidak terkait. Setelah sadar salah sasaran, polisi pun beralih ke rumah Joni Iskandar.

Dibawa Sehat, Pulang Jadi Mayat dengan Luka Sadis

Saksi mata sekaligus tokoh masyarakat Jabung, Sukuria Kusuma, menyaksikan langsung Joni Iskandar digelandang petugas dalam keadaan sehat dengan tangan diborgol.

“Beberapa jam kemudian, saya melihat sendiri mayat Joni. Matanya bocor, tangan dan lehernya patah, sekujur tubuh luka lebam akibat pukulan. Ini bukan eksekusi, ini penyiksaan,” kata Sukuria dengan suara bergetar.

Menurut Sukuria, tindakan aparat tersebut sama sekali tidak mencerminkan hati nurani seorang penegak hukum. “Polisi seharusnya melindungi, bukan malah membantai warga,” tegasnya.

Istri Baru 23 Hari Nikah, Pesan Terakhir Dipatahkan

Kisah memilukan datang dari istri Joni yang baru 23 hari menikah dengannya. Saat suaminya digiring petugas, ia sempat berpesan:

“Pak, tolong jangan di apa-apakan suami saya. Kami baru 23 hari nikah.”

Namun pesan itu sia-sia. Malam harinya, Joni pulang dalam kantong mayat dengan tubuh yang tak lagi utuh. Seharusnya polisi mendengarkan ratapan istri muda itu, bukan malah melampiaskan amarah pada orang yang belum terbukti bersalah.

Aparat Saling Tunjuk, Rakyat Menangis

Kekisruhan bertambah ketika diketahui bahwa penggerebekan dilakukan oleh Polresta Bandar Lampung, namun eksekusi diduga dilakukan oleh anggota Polda Lampung atas perintah Kapolda. Sementara itu, Kanit Polsek Jabung, Toro, hanya sibuk mengganti pintu rumah Kunang Hen yang didobrak—tanpa menangani kematian Joni.

“Ganti pintu? Itu hanya cara polisi menutupi kesalahan. Yang harus diganti adalah nyawa Joni dan hati nurani mereka yang sudah hilang,” ujar seorang tetangga korban.

Perintah Kapolda: Berburu Bukan Menegakkan Hukum

Perintah tembak di tempat yang dikeluarkan Kapolda Lampung dinilai telah mengubah polisi menjadi pemburu bayaran, bukan penegak hukum yang berhati nurani. Alih-alih mengedepankan asas praduga tak bersalah, aparat berlomba-lomba menembak tanpa proses hukum yang adil.

Bahkan, menurut Sukuria, mantan pelaku begal yang sudah tidak beraksi pun masih terus diburu dan diteror di rumah-rumah mereka.

“Kalau tertangkap basah sedang begal, rakyat tidak mempermasalahkan tindakan tegas. Tapi ini berburu di rumah-rumah, menyiksa, membunuh orang yang belum tentu bersalah. Hati nurani polisi mana?” kritik Sukuria.

Komnas HAM Diminta Turun Tangan

Publik kini mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan lembaga pengawas eksternal untuk segera mengusut kasus ini. Keluarga korban juga berencana melaporkan aparat yang terlibat ke Mahkamah Konstitusi dan Kompolnas atas dugaan pelanggaran HAM berat.

Hingga berita ini diturunkan, Kapolda Lampung dan jajarannya belum memberikan klarifikasi ataupun permintaan maaf. Yang terdengar hanya suara isak tangis istri Joni yang baru sebulan lebih menjalani biduk rumah tangga, kini harus kehilangan suami tercinta akibat ulah aparat yang kehilangan hati nurani.

Jurnalis: Tim Investigasi
Editor: Redaksi

Berita Terakait

Aktivis GRPM Desak APH Usut Dugaan Penggelembungan Anggaran Revitalisasi di SDN 3 Padaherang
Hadiri Prosesi Adat Megow Pak di Menggala, Dendi Albar Gelar Sutan Jaya Agung Tegaskan Komitmen Generasi Muda Jaga Marwah Adat Pepadun
DPC MOI Pandeglang Minta Pemda Bertindak Tegas Tutup Tempat Hiburan Malam Di Kepuh Tegalpapak Ditutup
Normalisasi Sungai Cidikit Rampung, Pemdes Bayah Barat Beri Penghargaan kepada PT SBJ
PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat
Penuh Khidmat, Redaksi Indosatunews.com dan Pusatsi.com Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim
Lepas Sambut Lurah Kepuren: Subhan SH Lepas Jabatan, Edi Junaedi SE.,MM Siap abdikan Diri Untuk Warg
Ikhtiar Spiritual dari Pesisir Carita: Warga Gelar Doa dan Larung Kepala Kerbau untuk Keselamatan Rombongan Jurnalis

Berita Terakait

Senin, 21 September 2026 - 04:38 WIB

Aktivis GRPM Desak APH Usut Dugaan Penggelembungan Anggaran Revitalisasi di SDN 3 Padaherang

Minggu, 20 September 2026 - 13:41 WIB

Hadiri Prosesi Adat Megow Pak di Menggala, Dendi Albar Gelar Sutan Jaya Agung Tegaskan Komitmen Generasi Muda Jaga Marwah Adat Pepadun

Kamis, 17 September 2026 - 19:38 WIB

DPC MOI Pandeglang Minta Pemda Bertindak Tegas Tutup Tempat Hiburan Malam Di Kepuh Tegalpapak Ditutup

Kamis, 17 September 2026 - 15:53 WIB

Normalisasi Sungai Cidikit Rampung, Pemdes Bayah Barat Beri Penghargaan kepada PT SBJ

Kamis, 17 September 2026 - 14:29 WIB

PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat

Rabu, 16 September 2026 - 18:40 WIB

Penuh Khidmat, Redaksi Indosatunews.com dan Pusatsi.com Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim

Rabu, 16 September 2026 - 10:27 WIB

Lepas Sambut Lurah Kepuren: Subhan SH Lepas Jabatan, Edi Junaedi SE.,MM Siap abdikan Diri Untuk Warg

Senin, 14 September 2026 - 20:50 WIB

Ikhtiar Spiritual dari Pesisir Carita: Warga Gelar Doa dan Larung Kepala Kerbau untuk Keselamatan Rombongan Jurnalis

Berita Terabru