Penabanten.com – Serang, Menyambut tahun toleransi yang digaungkan oleh pemerintah khususnya kementerian agama RI. pada tahun 2022, diketahui bahwa tahun 2021 pemerintah telah menggaungkan tentang Moderasi beragama, mengawali tahun toleransi ini forum komunikasi penyuluh agama islam kab. Serang menggelar pengajian dan sarasehan ulama dan penyuluh agama se kab. Serang Hari slala 25 januari 2022
Adapun Tempat Pelaksanaan dikantor MWC NU kec. Baros, yang di hadiri oleh para ulama dan tokoh masyarakat dan anggota FKPAI sebagai penyuluh agama yang terdiri dari pimpinan pondok pesantren dan pimpinan majelis talim di wilayah kecamatan se kab. Serang, pada acara ini mengusung tema “tahun 2022 tahun toleransi, bersatu melawan faham intoleran, radikalisme dan terorisme di banten.
Pada acara hadir ketua kelompok kerja penyuluh kab. Serang KH. Awi salwi sekaligus pimpinan pondok pesantren daarul mubtadiin waringin kurung, hadir dalam acaa sebagai narasumber pada pemaparannya dan menjelaskan, “peran ulama dan penyuluh agama islam sangat strategis dalam mewujudkan toleransi di banten, karena ulama dan penyuluh agama islam sebagai “suluh” atau penerang di masyarakat, langsung bersentuhan dengan masyarakat kalangan grassroot dan masyarakat banten khususnya sangat patuh kepada ulama. Maka ulama dan penyuluh harus menjadi garda terdepan dalam membumikan toleransi di banten khususnya untuk menangkal faham faham extrimis dan radikalisme yang tumbuh di banten”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beliau menambahkan “ ingin menjadikan banten sebagai barometer kerukunan umat beragama di Indonesia,” beliau yakin itu semua bias terwujud apabila ulama dan umaro dan ormas ormas ilam di banten bersama sama dan bersatu, insya Allah banten jauh dari kata intoleran bahkan faham radikal dan terorisme tidak akan tumbuh di banten”
Acara dihadiri oleh camat kecamatan baros perwakilan polsek dan koramil kec. Baros, ketua MUI Kec. Baros ketua MWC dan rois syuriah MWC NU kec. Baros, pada kesempatan ini ketua rois syuriah MWC NU “KH. Mustofa” menjadi narasumber kedua beliau memaparkan bahwa ulama harus berada di tengah tengah atau menjadi “umatan wasatiyah” beliau mencontohkan toleransi yang telah dilakukan rasulullah yang sangat toleran kepada umat selain muslim seperti nasrani dan yahudi pada zamannya, bias ber muamalah bersama dan bias hidup berdampingan tidak saling mengganggu dan mengusik satu sama lain.
Acara ini ditutup dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh ketua MUI Kec. Baros memanjatkan doa agar banten aman damai dan harmonis.
(Rilis/redaksi)













