Pasca Tsunami, Tatu Akan Tata Ulang Hotel Di Anyer

0
367

Penabanten.com, Serang – Pasca tsunami Selat Sunda yang tidak bisa diprediksi dan memakan korban jiwa, Bupati Serang mengaku khawatir dengan keberadaan hotel yang berada di tepi pantai Kecamatan Anyer dan Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang. Tatu pun meminta pemerintah pusat bersama-sama menata hotel dan kawasan wisata Pantai Anyer untuk keamanan dan kenyamanan wisatawan.

Hal tersebut dikatakan Tatu di sela-sela mendampingi Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Ignatius Jonan di Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Jumat (28/12/2018). “Kami akan mengirimkan surat kepada pemerintah pusat untuk bersama menata kawasan wisata Anyer, termasuk keberadaan hotel yang berada di pinggir pantai,” kata Tatu kepada sejumlah wartawan.

Menurutnya, tsunami yang melanda Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang telah meluluhlantakan sejumlah permukiman, beberapa hotel, dan kios-kios milik warga yang berada di tepi pantai. “Terhadap kios yang ada di tepi pantai, kami akan tinjau ulang untuk kemudian bisa dibangun kembali. Namun tidak lagi di tepi pantai, mungkin di seberang jalan, dan ini butuh lahan,”ujarnya.

Saat ini, mayoritas hotel di sepanjang pantai Anyer dan Cinangka, berada di tepat pantai. Menurut Tatu, keberadan hotel tersebut mengancam keselamatan wisatawan. “Untuk vila atau hotel yang menempel hingga bibir pantai, diharapkan ada pembagian zonasi dan pemetaan untuk kenyamanan tamu,” ujarnya.

Tatu memastikan, warga sekitar kawasan pantai sudah dievakuasi sesuai imbauan Badan Meteorologi dan Geofisika. Yakni mengungsi dengan jarak antara 500 meter sampai 2 kilometer dari bibir pantai. “Kita juga terus pantau perkembangan warga yang mengungsi agar tetap aman,” papar Tatu.

Baca Juga : Putri Bupati Serang Bantu Korban Tsunami di Pandeglang

Sementara itu, Menteri ESDM Ignatius Jonan memastikan akan memasang alat pengukur ketinggian ombak untuk mengantisipasi gelombang yang naik secara mendadak. Alat ini bisa menjadi bahan pemerintah agar bergerak cepat mengimbau warga .

Setelah melakukan peninjauan di Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Jonan menjelaskan, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sesungguhnya tidak terlalu tinggi dibandingkan September lalu. “Aktivis Gunung Anak Krakatau pada bulan ini tidak ada seperempatnya dibandingkan dengan bulan September dan kita akan cari penyebab tsunami yang sebenarnya,” tegasnya.

Ia menilai, jika tsunami terjadi karena letusan Gunung Anak Krakatau, maka seharusnya pada September bisa terjadi lebih besar. Namun menurutnya, pada saat itu tidak ada kenaikan gelombang ombak secara mendadak. ” Kita akan koordinasikan terlebih dahulu penyebab dari tsunami. Kejadian tsunami tanpa gempa adalah hal baru,” imbuhnya.

Terkait perlengkapan yang dimiliki Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Jonan akan memberikan pinjaman alat dari tempat lain agar sesuai prosedur dan memiliki validitas kuat. “Karena ada beberapa alat sudah ada yang rusak. Jika dilakukan pengadaan akan memakan waktu yang lama,” ujarnya.

Kementerian ESDM juga akan melakukan kerjasama data dengan pihak luar negeri untuk memperkuat akurasi terkait perkembangan Gunung Anak Krakatau. “Kita juga sudah lakukan sharing data dengan Jepang, Australia, Amerika dan satelit agar data yang kita kelola sesuai dengan prediksi,” kata Jonan.

Diketahui, pihak Kementerian ESDM juga akan menambah dua alat seismograph yang akan ditempatkan di Pulau Panjang dan Pulau Rakata sebagai bagian dari lingkar komplek Gunung Anak Krakatau. “Dengan penambahan alat ini juga akan menambah informasi jika terjadi gempa,” ujar Jonan.(Man)

Tinggalkan Balasan