Penabanten.com, Lebak – Masyarakat Adat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, memiliki sistem penanggalan tradisional tersendiri yang menjadi pijakan utama dalam menjalankan seluruh siklus kehidupan adat dan spiritualitasnya. Salah satu periode paling sakral dan dihormati dalam kalender adat tersebut adalah Bulan Kawalu.
Bulan Kawalu merupakan tiga bulan terakhir dalam satu siklus tahun adat Baduy, yang terdiri atas Bulan Kasa (Kawalu Mitembeyan), Bulan Karo (Kawalu Tengah), dan Bulan Katiga (Kawalu Tutug).
Tokoh kebudayaan, Ki Yanie, menguraikan bahwa selama Bulan Kawalu berlangsung, kawasan pemukiman Baduy secara resmi ditutup untuk kunjungan wisatawan umum. Penutupan ini bertujuan agar seluruh warga masyarakat adat dapat melaksanakan ikhtiar keagamaan dan ajaran Slam Sunda secara khusyuk tanpa gangguan luar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rangkaian Ritual Sakral: Dari Ngalanjakan Hingga Puasa Kawalu
Rangkaian Bulan Kawalu diawali dengan tradisi Ngalanjakan (berburu kijang, kancil, atau bajing) serta Kapundayan (menangkap ikan di leuwi-leuwi Sungai Ciujung).
Selama tujuh hari, perwakilan laki-laki dewasa dari setiap kampung adat bahu-membahu menjalankan tradisi persiapan ini sebelum memasuki ibadah puasa.
Usai Ngalanjakan dan Kapundayan, warga Baduy melaksanakan Puasa Kawalu, yaitu ibadah puasa satu hari penuh yang dijalankan pada tanggal-tanggal khusus:
Tanggal 18 Bulan Kasa (Kawalu Mitembeyan)
Tanggal 19 Bulan Karo (Kawalu Tengah)
Tanggal 18 Bulan Katiga (Kawalu Tutug)
Puasa ini wajib dijalankan oleh seluruh warga Baduy dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai sarana penyucian diri, pengendalian hawa nafsu, dan wujud rasa syukur mendalam kepada Sang Pencipta.
Tradisi Dibuat, Ngalaksa, dan Puncak Seba Baduy
Menjelang akhir siklus, masyarakat masuk ke masa panen melalui tradisi Dibuat (memanen padi huma). Panen dimulai dari Huma Serang (ladang bersama) lalu dilanjutkan ke huma masing-masing keluarga secara gotong royong selama tiga bulan.
Setelah panen tuntas, digelar ritual Ngalaksa, yaitu tradisi membuat makanan laksa dari tepung beras hasil panen sendiri sebagai simbol syukur kepada Sang Maha Kuasa dan para leluhur.
Sebagai puncak rangkaian spiritual, masyarakat Baduy memasuki Bulan Kapat (bulan Sapar) untuk melangsungkan ritual Seba Baduy.
Pada momen ini, para laki-laki dewasa Baduy berjalan kaki belasan hingga puluhan kilometer menuju pusat pemerintahan (Kabupaten Lebak dan Pemprov Banten) sambil membawa hasil bumi serta menyampaikan amanat adat kepada Ibu/Bapak Gede (Kepala Daerah).
Setelah prosesi Seba usai, kawasan Baduy kembali dibuka secara resmi untuk kegiatan Saba Budaya Baduy bagi masyarakat umum.
“Melalui tradisi Kawalu, masyarakat Baduy memberi ikhtiar nyata bahwa keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta merupakan fondasi utama kehidupan yang harus terus dipelihara dari generasi ke generasi,” pungkas Ki Yanie. (Red)























