Penabanten.com, Pandeglang – Peredaran obat keras jenis Tramadol di Kabupaten Pandeglang, Banten, semakin meresahkan. Seorang remaja berinisial JJ (20) mengaku mudah mendapatkan obat terlarang tersebut, meskipun harganya terbilang mahal.
JJ ditangkap saat membeli tiga butir Tramadol seharga Rp70.000 dari temannya, PH (20).
Ia mengungkapkan bahwa peredaran obat ini begitu bebas, bahkan hingga ke pelosok desa. Menurut pengakuannya, obat-obatan ini tidak hanya beredar di daerah Perdana, Panimbang, Taraju, dan Karangsari, tetapi juga di Kampung Cibeulah, Kecamatan Munjul, dan beberapa wilayah lainnya di Pandeglang.
“Saya beli obat dari teman saya, PH. Kalau di PH lagi kosong, saya cari ke teman lain. Banyak kok yang jual, cuma sekarang harganya tambah mahal saja,” ujar JJ dengan santai, tanpa merasa bersalah.
ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT
JJ juga mengakui bahwa ia nekat membeli obat terlarang tersebut dengan uang saku dari orang tuanya, bahkan mengorbankan uang untuk kebutuhan makanan. Ia merasa tidak bisa beraktivitas secara normal dan sering merasa gelisah jika tidak mengonsumsi obat-obatan itu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa obat-obatan yang seharusnya hanya bisa didapat melalui resep dokter ini semakin mudah diperjualbelikan secara ilegal. Kondisi ini mengancam kesehatan dan masa depan generasi muda di Pandeglang.
Permintaan Masyarakat dan Solusi
Melihat kondisi yang mengkhawatirkan ini, masyarakat, terutama tokoh agama dan Ketua MUI Desa Perdana, meminta pemerintah dan Muspika Kecamatan Sukaresmi untuk meningkatkan sinergi dalam pencegahan dan penindakan.
“Kami berharap ada tindakan serius, khususnya dari aparat penegak hukum, agar para pengedar obat-obatan ini diberikan efek jera,” kata salah satu tokoh masyarakat.
Aparat diminta untuk tidak hanya menyasar pengedar kecil, tetapi juga membongkar sindikat dan bandar besar di balik peredaran gelap ini. Proses hukum yang tegas dianggap sangat penting untuk menekan peredaran obat-obatan berbahaya.
Selain penindakan hukum, edukasi dan kontrol sosial juga menjadi kunci. Komunitas dan organisasi diharapkan dapat mengintensifkan kampanye kesadaran tentang bahaya obat keras di sekolah dan lingkungan masyarakat. Peran keluarga juga sangat krusial sebagai benteng pertama, di mana orang tua harus lebih peduli, terbuka, dan aktif berkomunikasi dengan anak-anak mereka tentang bahaya obat-obatan terlarang.
(Ron-red)