Penabanten.com, Banten – Di tengah dinamika zaman, eksistensi Kesultanan Banten kini bertransformasi menjadi pilar kekuatan moral dan kebudayaan. Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja, yang mengemban amanah sebagai Sultan Banten ke-18, menegaskan bahwa hakikat tugas utamanya bukanlah penguasaan wilayah secara politik, melainkan pengabdian titular sebagai pemangku adat, budaya, dan syiar Islam.
Meskipun secara legal-formal administrasi negara melalui putusan hukum menyatakan institusi kesultanan secara politik telah berakhir sejak 1808, posisi Sultan Bambang Wisanggeni tetap berdiri kokoh sebagai figur sentral keagamaan. Hal ini didasarkan pada dukungan penuh dari para ulama, tokoh masyarakat, serta dzuriyat (keturunan) kesultanan yang memandang perlunya simbol pemersatu bagi masyarakat Banten.
Fokus Utama: Akidah, Akhlak, dan Persatuan Dzuriyat
Sultan Bambang Wisanggeni menitikberatkan kepemimpinannya pada aspek Spiritualitas sebagai pengontrol moral. Beberapa poin penting dalam peran beliau meliputi:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
*Pemimpin Budaya & Keagamaan: Menjadi jangkar tradisi Islam Banten dan memastikan nilai-nilai luhur leluhur tetap relevan di masa kini.
*Simbol Persatuan Dzuriyat: Menjadi wadah bagi seluruh keturunan Kesultanan Banten untuk bersatu dalam memajukan daerah, khususnya dalam bidang pendidikan keagamaan dan sejarah.
*Penguatan Akidah: Dalam setiap kunjungannya, beliau konsisten membawa pesan kebangkitan akidah dan akhlak sebagai landasan utama pembangunan bangsa.
Pengakuan Ulama Internasional dan Kedekatan Lokal
Legitimasi spiritual beliau semakin kuat dengan adanya dukungan dari ulama internasional, salah satunya adalah Syeikh Fadhil al-Jailani (cucu ke-25 Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani) dari Turki, serta tokoh-tokoh besar dari Suriah, Malaysia, dan Thailand. Mandat internasional ini mempertegas peran Sultan dalam bimbingan keislaman lintas negara.
Di tingkat lokal, beliau secara aktif menjalin silaturahmi dengan simpul-simpul pesantren di Banten, salah satunya Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, guna mempererat sinergi antara pemangku adat dan ulama dalam menjaga marwah “Banten Kota Santri“.
Refleksi Kepemimpinan
Kepemimpinan Sultan Banten ke-18 ini dapat dicerminkan melalui model kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwana X di Yogyakarta. Jika Hamengkubuwana X menjalankan peran ganda sebagai Sultan dan Gubernur secara formal, Sultan Bambang Wisanggeni mengambil jalur pengabdian pada sisi kultural-keagamaan yang murni, bertindak sebagai pemberi nasihat spiritual bagi arah kemajuan masyarakat Banten.
“Tugas ini adalah amanah sejarah. Fokus kita adalah memastikan bahwa nilai Islam dan kebesaran sejarah Banten tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tapi menjadi ruh bagi akhlak generasi mendatang,” ujar Herman perwakilan kerabat kesultanan mengutip visi Sultan.








