Penabanten.com, Lebak – Buah manis dari keikhlasan dan keteguhan dalam mengabdi di dunia pendidikan akhirnya dirasakan nyata oleh Cacang Hidayat (56). Pria paruh baya yang bertugas sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak ini, kini perlahan merasakan secercah perubahan besar dalam hidupnya.
Pasca-kisah perjuangan hidupnya mendadak viral di media sosial pada Desember 2025 lalu, atensi luar biasa dari publik dan pemerintah daerah terus mengalir. Berbagai uluran tangan kini sukses mengubah kondisi perekonomian serta kelayakan tempat tinggal keluarganya secara bertahap.
Sebelumnya, video yang merekam kondisi rumah dinas domestik milik Cacang yang memprihatinkan, dipadukan potret dirinya yang harus berjalan kaki selama dua jam setiap hari demi menuju tempat kerja di SMPN 2 Cibadak, memantik rasa empati yang mendalam dari jutaan netizen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Diketahui, Cacang menetap di Kampung Sanding, Desa Sumur Bandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Jarak geografis yang teramat jauh dari sekolah tempatnya mengabdi sebagai tenaga tata usaha di perpustakaan tersebut terpaksa ia tempuh dengan berjalan kaki selama bertahun-tahun demi menghemat pengeluaran.
Di sekolah tersebut, dedikasinya tidak pernah luntur. Sebelum resmi menyandang status sebagai PPPK Paruh Waktu, Cacang harus bertahan sebagai tenaga honorer dengan upah pokok senilai Rp850 ribu per bulan. Jika ditambah dengan uang tugas piket, total pendapatan bersihnya hanya berkisar Rp1,2 juta per bulan—nominal minim yang dituntut cukup untuk menghidupi istri beserta enam orang anaknya.
“Iya pak, saya setiap hari berangkat dan pulang kerja selalu jalan kaki. Setiap perjalanan membutuhkan waktu dua jam berjalan kaki, tapi ya karena tugas saya tetap menjalaninya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab,” tutur Cacang mengenang masa-masa sulitnya.
Lentera asa kini mulai menyinari kediaman Cacang. Pemerintah Kabupaten Lebak bergerak responsif dengan memasukkan namanya ke dalam program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Gubuk berukuran 6×6 meter yang semula hanya berdinding bilik bambu rapuh, kini telah disulap menjadi bangunan yang kokoh dan jauh lebih layak huni.
Sinergitas kepedulian juga ditunjukkan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Lebak yang menyumbangkan material bangunan berupa bata hebel dan keramik untuk menyempurnakan renovasi. Namun karena keterbatasan ongkos tukang pemasangan, draf material tersebut saat ini masih disimpan rapi di halaman rumah.
Cacang mengakui dirinya masih memiliki draf pekerjaan rumah (PR) yang belum rampung, yakni merenovasi sektor dapur keluarga yang kondisinya masih memprihatinkan seperti sedia kala.
“Meski begitu dapur di rumah saya belum diperbaiki, masih seperti yang dulu. Rencananya jika saya punya rezeki, dapur dan keramik bantuan akan segera saya pasang,” ucapnya penuh optimisme.
Kemudahan aktivitas harian Cacang kian ditunjang setelah sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memberikan bantuan satu unit sepeda motor operasional sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi tanpa batasnya di dunia pendidikan Banten.
Uniknya, meski fasilitas kendaraan telah tersedia di rumah, Cacang mengaku enggan bersikap manja. Sepeda motor tersebut hanya ia manfaatkan pada sesi keberangkatan kerja pagi dengan diantar oleh salah satu anaknya.
Sementara untuk sesi pulang siang, pria berusia 56 tahun ini tetap memilih konsisten berjalan kaki menyusuri jalanan Lebak.
“Hanya berangkat kerja saja saya minta diantar oleh anak saya, pulangnya saya tetap jalan kaki,” tukasnya sembari tersenyum.
Ke depan, Cacang berharap aliran rezekinya terus dilancarkan agar ia mampu menuntaskan draf perbaikan dapur, pemasangan lantai keramik rumah, hingga memaksimalkan fungsi sumur manual sebagai satu-satunya pasokan sumber air bersih harian bagi keluarga tercintanya. (Red)























