Penabanten.com, Serang – Masih meroketnya harga tabung gas bersubsidi 3 kg, yang ditengarai ulah oknum agen nakal di Kabupaten Lebak, akhirnya dilaporkan warga Lebak ke Mapolres Lebak.
Pasalnya, dampak kenaikan tabung gas bersubsidi tersebut, diklaim disaat wabah covid-19 ini sangat tidak manusiawi.
Perbuatan oknum agen dan pengecer yang diduga secara sengaja bersikukuh melawan aturan. Hal ini ditegaskan RM Aryo Lukito, seorang warga Rangkasbitung, saat disambangi usai memberikan laporan ke Mapolres Lebak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dirinya mengungkapkan, faktor kenaikan harga tabung gas bersubsidi itu, ditengarai adanya permainan timbun jual dari oknum agen nakal. Faktor lainnya, hal itu dipicu karena lemahnya pengawasan dan tindakan tegas dari Pertamina dan Hiswana Migas Banten.
“Kami ada bukti ulah agen nakal jual tabung bersubsidi diatas HET, PT Surya Wana Jaya, yang berlokasi di Mandala, Kecamatan Cibadak, salah satunya, intinys stok tabung gas 3 kg di Lebak semestinya berkecukupan, sebab Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lebak, tanggal 27 Maret lalu telah melayangkan surat permohonan tambahan kuota tabung gas 3kg sebanyak 1 juta tabung ke Pertamina, usulan itu di kabulkan oleh Pertamina. Kemudian, tabung gas 3 kg itu dialokasikan untuk 9 agen di Lebak. Ya harusnya stok itu tidak langka dan harga tidak harus 28-30 ribu, tapi selaras Harga Eceran Tertinggi ( HET),” katanya, pada Penabanten.com, Rabu (20/5/2020).
Kata RM Lukito lagi, jika tidak adanya permainan dari oknum agen di Lebak, maka secara otomatis harga jual di tingkat pangkalan atau pengecer pun pasti stabil.
Ironisnya lagi, meski mengetahui adanya ulah curang oknum agen, Pertamina dan Hiswana Migas laksana setali tiga uang untuk tutup mata dan telinga, dengan maraknya keluhan rakyat miskin selaku pengguna tabung gas bersubsidi itu.
“Kami menduga, untuk menimbulkan kesan tabung gas 3 kg langka, 6 stok di timbun. Kemudian dilepas ke tingkat pengecer moment Ramadhan dan jelang Idul Fitri, ini bagian dari modus lama, baik Pertamjna maupun aparat penegak hukum manapun akan mudah membongkarnya,” terangnya.
Sebelumnya, Ketua DPRD Lebak Dindin Nurohmat, mengaku prihatin dengan terjadinya lonjakan harga jual tabung gas 3 kg bersubsidi tersebut. Pasalnya dalam kondisi tersebut, rakyat miskinlah yang jadi korban.
“Jujur kami prihatin kang, dengan dampak Covid-19 saja ekonomi mereka sudah carut marut, diperparah lagi dengan harga tabung gas 3 kg selangit, bagaimana tak jadi beban hidup berkepanjangan buat rakyat tak mampu. Kami sepakat jika kenaikan tabung gas diatas HET ini sama-sama kita lawan, ini semata-mata untuk kepentingan rakyat miskin,” ujarnya.
Terpisah Agus Reza, Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lebak, menyebutkan jika stok tabung gas 3 kg tidak seharusnya naik diatas HET. Sebab berdasarkan surat Disperindag, terkait permohonan penambahan kuota tabung gas 3 kg. Maka oleh Pertamina, sejak itu sebanyak 1 juta tabung telah didistribusikan oleh ke 9 agen,
“seharusnya kan harga jualnya kembaki ke HET, bukan malah sebaliknya, nilai jual naik jauh diatas HET, ” tandasnya.
Hasil penelusuran media ini dilapangan, harga tabung gas 3 kg di Cibadak, Rangkasbitung, Warunggunung, Kalanganyar masih melonjak naik diatas HET. Seperti dituturkan Iis Munawaroh, warga Kalanganyar, Syarif warga Rangkasbitung, Ai warga Cibadak, ketiganya menuturkan hal sama, bahwa hingga saat ini, harga jual tabung gas 3 kg di wilayah mereka masih di kisaran 28 hingga 30 ribu rupiah per tabung. (Yans)








