Menyuarakan Kritik Lewat Puisi “Tetaplah Bodoh” Karya Fathul Wahid

Sabtu, 3 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penabanten.com, Kab. Tangerang – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menutup tahun 2025 dengan sebuah aksi teatrikal yang sarat makna. Dalam acara refleksi akhir tahun yang digelar pada 31 Desember 2025, Ketua Umum SMSI, Firdaus, bersama jajaran pengurus lainnya secara berantai membacakan puisi kritis berjudul “Tetaplah Bodoh” karya Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid.

Puisi ini menarik perhatian publik karena keberaniannya dalam memotret realitas sosial-politik terkini, khususnya terkait penanganan bencana banjir di Sumatera serta kebijakan lingkungan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ironi “Kepintaran” di Tengah Krisis “Tetaplah Bodoh” bukanlah sebuah ajakan untuk menjadi tidak berilmu.

Sebaliknya, Prof. Fathul Wahid menggunakan metafora “bodoh” sebagai sarkasme tajam untuk menyindir narasi-narasi pemerintah yang dinilai mencederai akal sehat.
Dalam bait-baitnya, Fathul menyoroti bagaimana istilah “pintar” sering kali diselewengkan untuk melegitimasi manipulasi fakta. Salah satu poin krusial yang diangkat adalah isu deforestasi dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. Ia menyentil argumen pejabat yang menyebut kayu gelondongan tumbang dengan sendirinya serta klaim bahwa sawit bisa menggantikan peran hutan hutan hanya karena sama-sama “berdaun hijau”.

Puisi ini juga viral di media sosial karena menyuarakan keresahan netizen atas keengganan pemerintah menetapkan status “Bencana Nasional” pada banjir Sumatera. Fathul mengkritik pandangan yang menganggap bantuan asing dapat meruntuhkan martabat bangsa, sementara di sisi lain, bantuan dari diaspora justru dibayangi oleh regulasi perpajakan yang memberatkan.

“Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar mensyaratkan bantuan bencana dari diaspora perlu dipajaki dulu, agar duka ikut menyumbang penerimaan negara,” tulis Fathul dalam salah satu baitnya yang paling menggigit.

Ajakan Menjaga Nalar Kritis
Bagi SMSI, memilih puisi ini sebagai bagian dari agenda tutup tahun adalah bentuk komitmen media untuk terus menjaga nalar kritis bangsa. Di tengah gempuran opini buzzer dan influencer bayaran, serta sistem pendidikan yang kerap berubah, pesan utama puisi ini adalah ajakan untuk bangkit dari kebodohan yang terstruktur.

Melalui rilis ini, kami melampirkan naskah lengkap puisi tersebut sebagai bahan perenungan bersama dalam memasuki tahun 2026.
LAMPIRAN: NASKAH PUISI

TETAPLAH BODOH
Karya: Fathul Wahid

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri,
kebetulan saja sebagian diberi nomor
agar tak tersesat pulang.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengharuskan kita sepakat
bahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau,
cukup untuk mengganti nama hutan,
meski akarnya tak lagi sudi menahan air.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar berarti curiga pada suara kritis,
dianggap menggiring opini,
menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna,
dan empati harus menunggu siaran media.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing
yang tak seberapa itu berbahaya,
bisa meruntuhkan martabat bangsa
yang konon berdiri tegak—tanpa bantuan siapa-siapa.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mensyaratkan
bantuan bencana dari diaspora
perlu dipajaki dulu,
agar duka ikut menyumbang penerimaan negara.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar berarti setuju
cukup menteri memanggul karung bantuan,
sementara empati dianggap bonus,
tak wajib, apalagi tulus.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa ribuan korban hanyalah angka,
terlalu kecil untuk disebut bencana nasional,
hanya cukup jadi catatan kaki laporan tahunan.

Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menganggap alih hutan ke sawit
adalah keniscayaan,
dan banjir selalu bisa kita titipkan
pada takdir—
agar tangan manusia tetap tampak tak ternoda.

Mari, tetap bodoh, kawan.
Sebab di negeri ini,
terlalu sering, yang disebut pintar
justru adalah kelihaian
melawan akal sehat,
menyembunyikan fakta,
dan memperdayai sesama.
Kawan, mari, tetap bodoh.

Sleman, 22 Desember 2025
Tentang SMSI:

Berita Terkait

HPN Banten 2026, SMSI dan Kominfo Lebak Matangkan Persiapan, Kenalkan Sejarah dan Budaya ke Level Nasional
Pilkada Melalui DPRD, Tidak Melanggar Konstitusi
Banten Jadi Tuan Rumah HPN 2026, SMSI Pastikan Destinasi Wisata Sejarah Lebak Siap Sambut Tamu Nasional
Harapan SMSI Tahun 2026:Podcast Menjadi Institusi Pers
Dialog Nasional SMSI: Menuju “Pers Sehat” di Tengah Arus Media Baru
Kejari Serang dan SMSI Kabupaten Serang Jalin Silaturahmi, Komitmen Perangi Hoaks dan Perkuat Informasi Publik
SMSI Kabupaten Serang Ucapkan Selamat atas Dilantiknya Pengurus PWI Pusat

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 15:19 WIB

HPN Banten 2026, SMSI dan Kominfo Lebak Matangkan Persiapan, Kenalkan Sejarah dan Budaya ke Level Nasional

Jumat, 9 Januari 2026 - 16:30 WIB

Banten Jadi Tuan Rumah HPN 2026, SMSI Pastikan Destinasi Wisata Sejarah Lebak Siap Sambut Tamu Nasional

Sabtu, 3 Januari 2026 - 07:54 WIB

Menyuarakan Kritik Lewat Puisi “Tetaplah Bodoh” Karya Fathul Wahid

Kamis, 1 Januari 2026 - 13:11 WIB

Harapan SMSI Tahun 2026:Podcast Menjadi Institusi Pers

Selasa, 16 Desember 2025 - 15:08 WIB

Dialog Nasional SMSI: Menuju “Pers Sehat” di Tengah Arus Media Baru

Jumat, 24 Oktober 2025 - 11:17 WIB

Kejari Serang dan SMSI Kabupaten Serang Jalin Silaturahmi, Komitmen Perangi Hoaks dan Perkuat Informasi Publik

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 18:36 WIB

SMSI Kabupaten Serang Ucapkan Selamat atas Dilantiknya Pengurus PWI Pusat

Berita Terbaru