Kisruh LH Marunda Di KCN Suatu Pengiringan Opini

0
43

Penabanten.com, Jakarta Utara, Soal adanya tudingan kalau aktivitas PT Karya Citra Nusantara (KCN) di Pelabuhan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, menimbulkan pencemaran abu batubara yang berdampak pada kesehatan warga Rusunawa Marunda dan sekitarnya, Ketua Umum Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Perjuangan Anak Negri (YLPK PERARI), Hefi Irawan SH, menduga sarat pengiringan opini

Pengiringan opini dimaksud adalah untuk mengarahkan stigma negatif kepada masyarkat atas kinerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Marunda dan PT Karya Citra Nusantara (KCN).

“Karena tudingan dan opini yang disampaikan kemasyarakatan baik secara media dan orasi tidak sesuai fakta dan kondisi yg sebenarnya , khususnya oleh Forum Masyarakat Rusunawa Marunda (F-MRM), tidak sesuai fakta-fakta kondisi yg sebenarnya ” kata Hefi Irawan SH melalui keterangan langsung , kamis(24/3/2022).

Dalam penjelaskan ke awak media , Marunda sejak dipegang oleh Kapten Isa Amsyari sebagai KSOP telah mengalami peningkatkan dalam pelayanan dengan menata kawasan pelabuhan bongkar muat kargo, curah kering, dan curah cair, serta menata lebih baik proses perizinan pelabuhan sesuai amanah Presiden Joko Widodo dalam rangka menjaga dan menguatkan iklim investasi di Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa ada 192 perusahaan dalam berbagai sektor kegiatan kepelabuhan di Pelabuhan Marunda, dan semua teratur serta terlayani dengan baik.

“kapten Isa Amsari sebagai KSOP menerapkan inaportnet untuk layanan pelabuhan, yaitu layanan kepelabuhanan secara elektronik berbasis digital. Hasilnya, terjadi peningkatan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Marunda dengan total bongkar muat selama 2021 mencapai 17,4 juta ton,” jelas Saefudin.

Ia menambahkan, efek dari jumlah bongkar muat itu, Kantor KSOP Marunda membukukan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp24,9 miliar, jauh di atas yang ditargetkan negara, yaitu sebesar Rp20,4 miliar.

Selain itu, kapten Isa amsari sebagai KSOP telah melakukan penghijauan yang didukung harmonisasi dengan masyarakat sekitar.

Hefi Irawan SH menganggap kalau tudingan F-MRM bahwa PT KCN menjadi penyebab pencemaran debu batubara, tidak beralasan dan itu suatu opini untuk menjatuhkan kinerja seseorang

Sebab, jelas Hefi irawan , selain KCN, masih banyak perusahaan yang melakukan bongkar muat batubara di Pelabuhan Marunda, di antaranya Pelabuhan Marunda Center, Pelabuhan KBN C 04, Pelabuhan Wailai Jaya, Pelabuhan HSD dan Pelabuhan Jayanti Mandiri.

Data beberapa perusahaan yang melakukan bongkar muat batubara di Pelabuhan Marunda. Sumber: F-MAKI

”Nah, tuduhan penyebaran debu batubara yang hanya diarahkan kepada KCN itu opini negatif dan berlebihan karena nyatanya ada empat perusahaan lainnya yang melakukan kegiatan yang sama, tetapi mengapa hanya KCN yang menjadi sasaran tembak?” tanya Hefi Irawan .

Ia menjelaskan bahwa Pelabuhan Marunda merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tentunya diberi batas zona aman, dan lokasi Rusunawa Marunda berada di luar zona aman tersebut karena berjarak sekitar 5 kilometer dari pelabuhan KCN.

KSOP dan KCN, lanjutnya, juga sudah melakukan penyiraman pada stockpile ketika diperlukan, dan juga pemasangan jaring untuk mengurangi penyebaran debu batubara.

”KCN menjadikan Pelabuhan Marunda sebagai pelabuhan hijau (Green Port) dengan menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk menjadikan Pelabuhan Marunda sebagai pelabuhan yang ramah lingkungan,” tegas Hefi Irawan

Keluhan warga Rusunawa Marunda

Sebelumnya, sejumlah media mengabarkan kalau F-MRM menyatakan bahwa saat ini di lingkungan tempat tinggal mereka sedang terjadi pencemaran lingkungan debu batubara dalam bentuk flying ash bottom ash (FABA).

Menurut mereka, pencemaran tersebut terjadi akibat kesalahan administrasi dan tata kelola di wilayah Pelabuhan Marunda, Jakarta Utara.

Mereka mengaku, pencemaran debu batubara makin sering terjadi sejak tahun 2018-2019.

“Kami juga pernah unjuk rasa di Pelabuhan Marunda dan seolah tidak ada solusi karena dibiarkan hingga saat

Tinggalkan Balasan