Dewan Pers Apresiasi Langkah WH Laporkan Berita Soal Ponpes Hantu

Rabu, 4 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penabanten.comJakarta, Pihak detik.com meminta maaf dan mengakui telah melanggar kode etik jurnalistik, terkait dua berita yang dimuat pada rubrik detikX atau detik investigasi beberapa waktu lalu, dengan judul “Asal Cair Demi Gubernur Wahidin” dan “Ponpes Hantu Penerima Hibah. Hal itu terungkap dalam mediasi daring yang digelar Dewan Etik dari Dewan Pers, Selasa (3/08/2021).

“Dewan Pers dan Detik mengapresiasi langkah Wahidin Halim melalui kami selaku kuasa hukumnya mengadukan persoalan ini secara hukum ke Dewan Pers sesuai UU,” ungkap Andi Syafrani AS&CO Law Office Selaku Kuasa Hukum Gubernur Baten Wahidin Halim (WH), sebagaimana dirilis pada akun Facebooknya.

Dikatakan Andi Syafrani, pihaknya hampir lupa terkait kasus tersebut karena saking lamanya menunggu panggilan oleh Dewan Pers yang sudah hampir dua bulan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Namun, alhamdulillah, barusan pagi ini sampai zuhur tadi telah selesai mediasi daring yang digelar oleh Dewan Etik dari Dewan Pers,” katanya.

Menurutnya, istilah mediasi ini sebenarnya tidak sepakat karena mediasi itu harusnya hanya untuk perkara privat, bukan publik seperti kasus pers. Namun, karena sudah terlanjur jadi pihaknya menerima putusan tersebut.

“Kami dari AS&CO Law Office mewakili Wahidin Halim, Gubernur Banten, sebagai Pengadu dan Detik.com sebagai Teradu di ruang dan waktu terpisah tadi, serta beberapa insan pers senior sebagai Dewan Etik dan kesekretariatan dari Dewan Pers. Berdasarkan risalah kesepakatan dari Dewan Etik-Dewan Pers, secara prinsip aduannya diterima dan Teradu dinyatakan bersalah,” kayanya.

Dikatakan Andi Syafrani, pihaknya sebagai Pengadu diberikan hak jawab yang akan dimuat oleh Detik disertai dengan pernyataan permintaan maaf dan pemuatan pengakuan kesalahan melanggar Kode Etik Jurnalistik.

“Terima kasih kepada Dewan Pers yang telah menerima aduan ini dan memerosesnya sesuai ketentuan. Juga, terima kasih kepada Detik yang ikut hadir dalam proses tadi. Di akhir pertemuan daring tadi, setelah urusan pokok selesai, saya menyampaikan masukan kepada Dewan Pers untuk memperjelas aturan tentang koreksi internal media yang bukan dilakukan sebagai pelaksanaan hak koreksi dari publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 12 dan Pasal 5 UU Pers,” paparnya.

Dia berharap, kedepannya jangan sampai koreksi berita secara internal dijadikan modus untuk memuat berita yang merugikan publik atau seseorang karena hal ini tidak dapat dijangkau hukum dan dianggap kerja koreksi profesional semata.

“Misalnya ada berita yang telah dipublikasi media yang mengandung kesalahan dan berakibat merugikan seseorang. Namun beberapa hari kemudian berita tersebut diubah oleh media tersebut dengan judul dan isi yang berbeda dengan dalih koreksi. Padahal kerugian sudah terjadi dan dirasakan pihak yang dituliskan namanya dalam berita tersebut. Hanya dengan alasan koreksi, media dapat menghindar dari persoalan etik dan hukum untuk mengganti kerugian yang sudah terjadi,” paparnya.

Ditegaskan Andi Syafrani, munculnya persoalan koreksi ini karena Detik telah melakukan koreksi atau lebih tepatnya perubahan besar terhadap salah satu berita yang pihaknya adukan, setelah proses aduan dimasukkan ke Dewan Pers. Koreksi tersebut bersifat luas mencakup judul dan sebagian besar isi berita tanpa memberikan informasi yang jelas kapan pemuatan koreksi itu dilakukan dan berita dengan judul apa yang dikoreksi.

“Saya mempersoalkan model koreksi yang bersifat hampir total tersebut. Sebab dalam pemahaman saya, koreksi mestinya harus bersifat minor dan terbatas, tidak mengubah mayoritas isi dan substansi. Mengacu pada istilah media, koreksi seperti itu mirip pencabutan berita lama dengan pembuatan berita baru. Tapi ini oleh Detik tidak disebut demikian. Detik menyebut tindakannya sebagai koreksi di bagian paling bawah berita,” tandas Andi Syafrani.

Fakta itulah yang membuat pihaknya memberanikan diri untuk mengusulkan agar Dewan Pers memberikan pedoman yang lebih jelas soal koreksi ini.

“Sebab pemaknaan koreksi ala Detik yang diamini Dewan Pers tampaknya berbeda dengan pemahaman kata koreksi pada umumnya,” pungkas Andi Syafrani. ( Riska)

Berita Terkait

Korban Perampasan Motor di Tangerang Desak Polisi Tangani Serius Kasusnya
Diduga Oknum Pelaksana PT Demes Karya Indah intimidasi Wartawan Ditangerang
Aliansi Kecamatan Gunungsari Gelar Audiensi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Serang
Rumah Sakit Sari Asih Serang Gelar Sunatan Massal sebagai Bentuk Kepedulian terhadap Masyarakat
Skandal Dana Tambang dan Hak Sopir Ambulans Terkuak di Pagintungan, Warga Lapor ke Penegak Hukum
Ada Apa…!!!! ” Dengan Kapolsek Pakuhaii ” Marak Peredaran obat terlarang daftar ( G ) Terkesan Ada Pembiaran
LAN Kabupaten Tangerang Tegaskan Komitmen Perangi Narkoba di Peringatan HANI 2025
Antisipasi Gangguan Kamtibmas, Ditpamobvit Korsabhara Baharkam Polri Gelar Rapat Bersama PT KCI

Berita Terkait

Senin, 11 Agustus 2025 - 16:02 WIB

Korban Perampasan Motor di Tangerang Desak Polisi Tangani Serius Kasusnya

Sabtu, 2 Agustus 2025 - 18:34 WIB

Diduga Oknum Pelaksana PT Demes Karya Indah intimidasi Wartawan Ditangerang

Jumat, 1 Agustus 2025 - 16:05 WIB

Aliansi Kecamatan Gunungsari Gelar Audiensi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Serang

Sabtu, 26 Juli 2025 - 10:00 WIB

Rumah Sakit Sari Asih Serang Gelar Sunatan Massal sebagai Bentuk Kepedulian terhadap Masyarakat

Rabu, 23 Juli 2025 - 08:14 WIB

Skandal Dana Tambang dan Hak Sopir Ambulans Terkuak di Pagintungan, Warga Lapor ke Penegak Hukum

Selasa, 8 Juli 2025 - 19:56 WIB

Ada Apa…!!!! ” Dengan Kapolsek Pakuhaii ” Marak Peredaran obat terlarang daftar ( G ) Terkesan Ada Pembiaran

Kamis, 26 Juni 2025 - 09:48 WIB

LAN Kabupaten Tangerang Tegaskan Komitmen Perangi Narkoba di Peringatan HANI 2025

Selasa, 3 Juni 2025 - 20:10 WIB

Antisipasi Gangguan Kamtibmas, Ditpamobvit Korsabhara Baharkam Polri Gelar Rapat Bersama PT KCI

Berita Terbaru